Di jalan kami menyanikan lagu ceria. "Naik naik ke puncak gunung..."
Kemudian melintaslah seorang polisi berkumis tebal, berkacamata hitam model "Asep Irama", bersepatu bot hitam, berjidat lebar nan mengkilap. Sambil mengikuti irama kami si polisi ikut bergoyang. Di gelengkan kepalanya...kanan...,kiri...,maju...,setengah lingkaran...
Kemudian entah kenapa dia mengurangi laju motornya dan menuju ke belakang motor ku. Dia Terkejut...dan terperanga... Mempercepat motornya dan kembali ke samping motorku. Dengan pelan dan pasti dia keluarkan Ipod dari motornya dan menekan tombol STOP. Berhentilah kami bernyanyi. Dan polisi itu pun berkata "Mas minggir dulu mas, minta tanda tangan".
Di tepi setelah dia mendapat tanda tangan dariku dia kembali mengeluarkan sebuah block note merah dan berkata "Maaf mas, Platnya udah kadaluarsa", "Motornya terpaksa saya tahan". Tersungkurlah aku, aku berlutut, langit mulai gelap, petir menyambar dan hujan membanjiri tubuhku.
Ku coba untuk berdiri dan kemudian berkata. "Pak..kumohon pak.. jangan tangkap kami..!" Polisi itu tetap berdiri tegap tak bekutik. "Pak lihatlah pak...lihatlah..., Lihat dokter muda berbakat itu pak. masa depannya masih panjang. Banyak yang bisa dia selamatkan kelak. Apa jadinya jika sekarang bapak mengambil motorku?". Polisi itu menatap sejenak kakakku. Kakakku hanya menatap ke sebuah tembik tak bertepi dengan tatapan kosong. Dan ku memohon lagi "Apa bapak tidak melihat pula anak manis itu? Dia duduk termenung di atas motor dan memandang kedepan. Lihat matanya pak...matanya...Tatapannya kosong pak. Menunggu keputusan bapak. agar dia bisa merasakan indahnya mempunyai gigi susu kembali...!"
Polisi itu melepaskan helmya. Sesaat kemudian langit kembali cerah, mendung terhapus oleh cahaya terang dari jidat polisi itu. Dia tanggalkan kacamatanya. Dicukurlah kumisnya. Dan ternyata dia adalah ATENG...! "Mas...,bukan mas... bukan Almarhum Ateng... hanya mirip kok. banyak yang memuji begitu" kata polisi itu. Dalam hati ku berkata, "punya jidat lebar kok bangga!". "Baiklah mas, karena keteguhan hati mas, mas saya lepaskan" sambil menitihkan air mata polisi itu melepaskanku.
Aku segera bergegas meninggalkan tempat itu. Di kejauhan kutengok lagi polisi Ateng itu. Matanya sebam, masih terus menitikan air mata sambil melambai-lambai kain putih kepadaku. Polisi itu kemudian berteriak "Lanjutkan perjalananmu naaak..., jalanmu masih panjang.". Sambil terus memacu motorku aku mengacungkan jempol kiriku ke atas tanda terimakasih ku padanya.
Terimakasih pak polisi...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment